Rabu, 13 Juni 2012

Murah Enak Banyak




Dari Abdullah bin Salam ra., Nabi saw. bersabda: Wahai sekalian manusia, sebarkanlah salam, berilah makan dan sholatlah di waktu malam sementara manusia sedang tidur, maka kalian akan masuk surga dengan selamat. (HR. Tirmidzi)



Melihat judulnya, kayaknya ini tulisan tentang makanan. Siapa yang gak mau coba, udah harganya murah, rasanya enak, porsinya banyak. Puas deh.

Makna “Murah Enak Banyak” kali ini tidak mengupas makanan dan sejenisnya. Seperti firman Allah di atas, kita diamanahkan oleh Allah untuk memperbanyak amal sholeh, baik amalan hablu minallah atau hablu minannas. Ini membuktikan seberapa besar kecintaan kita pada-Nya. Nah, sebagai ganjarannya. Allah itu Maha Adil, Maha Bijaksana, Maha Kaya, akan banyak limpahan pahala yang dikasihkan kepada kita. Semakin banyak berjuang maka banyak pahala. Misal, jihad fisabilillah, berdakwah, berperang, juga ibadah haji. Itu semua amalan yang tidak mudah, capek, pusing , butuh pengorbanan bahyak hal seperti tenaga, pikiran, uang dsb, sehingga pahalnya pun melimpah sesuai beratnya amalan tersebut. 

Namun, inilah bukti Maha Pemurah-nya Allah, ada juga amalan-amalan kebaikan yang tidak terlalu memeras keringat, mudah dikerjakan, tetapi pahalanya mantap abissss.... Saya menyebutnya amalan yang “Murah Enak Banyak”. Murah, karena dananya sedikit atau bahkan tidak membutuhkan dana, alias gratis. Enak, karena jika kita meresapi sungguh-sungguh dengan khusyuk, maka amalan tsb akan terasa nikmaaaat sekali. Banyak, ini dia bagian yang keren, udah mudah, nikmat, peluang pahalanya banyak banget. Seperti curahan air hujan yang turun ke muka bumi, seperti bintang yang bertaburan di angkasa, seperti laron yang berterbangan di bawah sinar lampu saat musim hujan, seperti nyamuk yang menyerang Manarul tiap malam. J
Yang saya fahami saat menimba ilmu agama sejak SD sampai sekarang, ada 3 amalan yang masuk 3 kriteria tersebut, saya menyebutnya 3S. Amalan yang “Murah Enak Banyak” adalah : 



Yuk kita kupas satu-satu :

Shalat
“Barangsiapa keluar dari rumahnya dalam keadaan suci untuk shalat fardhu maka pahalanya seperti haji.” (HR. Abu Daud dan dishahihkan olah Syeikh Albani).

Kata alm. Ust Zainudin MZ saat pengajian ngabuburit waktu saya masih SD, beliau mengatakan shalat adalah ibadah yang mudah, tidak mengeluarkan uang, tidak menguras fisik dan pikiran, tapi paling susah dilakukan. Bawaannya males terus. Padahal kalau kita sudah khusyuk, kita akan merasakan nikmatnya shalat. Waktu itu fikiran kita benar-benar terfokuskan untuk “berdialog” dengan Allah.

Alkisah, sang pembela Islam Ali bin Abi Thalib tertancap mata panah di punggung saat pasukan Islam menggempur musuh. Beliau sungguh kesakitan, dan tak ada cara lain kecuali mencabut mata panah itu. Lalu dalam kesakitannya Ali bin Abi Thalib berkata, “cabut mata panah ini saat aku berdiri di rakat kedua..” Lalu Beliau menunaikan shalat sunnah 2 rakaat. Pelan, tenang, tuma’ninah. Tak ada lagi tanda kesakitan di wajahnya yang tunduk khusyu’ Rakaat kedua tiba dan mereka mencabut anak panah itu. Tak ada tanda kesakitan. hanya darah segar yang mengalir deras. Luka segera diobati. Setelah salam akhir shalat, sang pembela Islam ini bertanya, “Sudahkah dicabut mata panah tadi?”

“Sesungguhnya yang pertama kali akan dihisab dari amal perbuatan manusia pada hari kiamat adalah shalatnya. Rabb kita Jalla wa ‘Azza berfirman kepada para malaikat-Nya -padahal Dia lebih mengetahui-, “Periksalah shalat hamba-Ku, sempurnakah atau justru kurang?” Sekiranya sempurna, maka akan dituliskan baginya dengan sempurna, dan jika terdapat kekurangan maka Allah berfirman, “Periksalah lagi, apakah hamba-Ku memiliki amalan shalat sunnah?” Jikalau terdapat shalat sunnahnya, Allah berfirman, “Sempurnakanlah kekurangan yang ada pada shalat wajib hamba-Ku itu dengan shalat sunnahnya.” Selanjutnya semua amal manusia akan dihisab dengan cara demikian.” (HR Abu Daud)

Allah sungguh Maha Pemurah, seperti yang tertuang pada hadits di atas, salah satu hikmah dianjurkannya shalat sunnah adalah sebagaipenutup kurang sempurnanya shalat fardhu kita. Dan karena shalat adalah amal yang pertama di hisab, shalat menjadi tolok ukur semua amalan manusia, jika seseorang tidak shalat, maka amalan lain tidak akan diperiksa. (dari Ust Mudhafar).

Berhubung shalat adalah ibadah yang vital, tidak cukup hanya benar gerakannya. Namun harus tenang, tuma’ninah, dan khusyuk. Ada kisah sahabat yang ditulis di Sahih Bukhari tentang pentingnya tuma’ninah.

Masuklah seorang pria ke dalam masjid, lalu melaksanakan shalat dengan cepat. Setelah selesai, ia segera menghadap Rasulullah SAW dan mengucapkan salam. Rasul berkata pada pria itu, "Sahabatku, engkau tadi belum shalat! "Betapa kagetnya orang itu mendengar perkataan Rasulullah SAW. Ia pun kembali ke tempat shalat dan mengulangi shalatnya. Seperti sebelumnya ia melaksanakan shalat dengan sangat cepat. Rasulullah SAW tersenyum melihat "gaya" shalat seperti itu. Setelah melaksanakan shalat untuk kedua kalinya, ia kembali mendatangi Rasulullah SAW. Begitu dekat, beliau berkata pada pria itu, "Sahabatku, tolong ulangi lagi shalatmu! Engkau tadi belum shalat."Lagi-lagi orang itu merasa kaget. Ia merasa telah melaksanakan shalat sesuai aturan. Meski demikian, dengan senang hati ia menuruti perintah Rasulullah SAW. Tentunya dengan gaya shalat yang sama. Namun seperti "biasanya", Rasulullah SAW menyuruh orang itu mengulangi shalatnya kembali. Karena bingung, ia pun berkata, "Wahai Rasulullah, demi Allah yang telah mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak bisa melaksanakan shalat dengan lebih baik lagi. Karena itu, ajarilah aku!""Sahabatku," kata Rasulullah SAW dengan tersenyum, "Jika engkau berdiri untuk melaksanakan shalat, maka bertakbirlah, kemudian bacalah Al-Fatihah dan surat dalam Alquran yang engkau pandang paling mudah. Lalu, rukuklah dengan tenang (thuma'ninah), lalu bangunlah hingga engkau berdiri tegak. Selepas itu, sujudlah dengan tenang, kemudian bangunlah hingga engkau duduk dengan tenang. Lakukanlah seperti itu pada setiap shalatmu."
Kekhusukan ruhani akan sulit tercapai, bila fisiknya tidak khusyuk. Dalam arti dilakukan dengan cepat dan terburu-buru. Sebab, dengan terlalu cepat, seseorang akan sulit menghayati setiap bacaan, tata gerak tubuh menjadi tidak sempurna, dan jalinan komunikasi dengan Allah menjadi kurang optimal. Bila hal ini dilakukan terus menerus, maka fungsi shalat sebagai pencegah perbuatan keji dan munkar akan kehilangan makna. Karena itu, sangat beralasan bila Rasulullah SAW mengganggap "tidak shalat" orang yang melakukan shalat dengan cepat (tidak tumaninah).

Shaum
Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Akulah yang akan membalasnya.” (HR Bukhari Muslim)
Ibadah-ibadah lain akan mendapat pahala yang cepat sejak dari dunia ini sampai akhirat dengan takaran-takaran yang sudah digambarkan oleh Allah SWT. Misalnya pahala ibadah sunat dalam bulan Ramadhan seperti pahala ibadah wajib pada bulan lain.
Sedangkan Ibadah wajib pada bulan Ramadhan akan dilipatgandakan oleh Allah dari 10 sampai 700 kali lipat. Lain halnya dengan puasa. Puasa itu akan dibalas oleh Allah SWT melebihi ibadah lain. Hanya Allah yang tahu ukurannya, yang pasti jumlahnya jumbo.
Dalam surat Al Ahzab ayat 35, Allah telah menyiapkan kepada kita ampunan dan pahala yang besar bagi kita yang :
1.        Laki-laki dan perempuan muslim dan muslimah.
2.        Laki-laki dan perempuan yang beriman.
3.        Laki-laki dan perempuan yang taat.
4.        Laki-laki dan perempuan yang jujur.
5.        Laki-laki dan perempuan yang sabar.
6.        Laki-laki dan perempuan yang khusyu’.
7.        Laki-laki dan perempuan yang rajin bersedekah.
8.        Laki-laki dan perempuan yang rajin puasa.
9.        Laki-laki dan perempuan yang menjaga kemaluannya.
10.    Laki-laki dan perempuan yang banyak mengingat Allah.

Karena puasa adalah ibadah yang khusus dipersembahkan kepada Allah, banyak kelebihan – kelebihan yang Allah berikan kepada kita yang gemar berpuasa. Ada dalam hadits sohih berikut;
Demi tuhan yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya sungguh bau mulut orang yang berpuasa itu lebih harum di sisi Allah daripada bau kasturi. Seorang yang berpuasa memiliki dua kegembiraan; ketika berbuka puasa maka dia merasa senang, dan ketika berjumpa dengan Rabbnya maka dia pun merasa senang dengan puasanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Saat itu malam Idul Fitri seperti biasanya Rasulullah SAW dan para sahabat membaca Takbir, Tahmid dan Tahlil di Masjidil Haram. Saat sedang bertakbir, tiba-tiba Rasulullah SAW keluar dari kelompok dan menepi ke arah dinding. Kemudian Rasulullah SAW mengangkat kedua tangannya (layaknya orang berdoa) lalu Rasulullah SAW mengatakan : “Amin” sampai tiga kali.

Setelah Rasulullah SAW mengusapkan kedua tangan diwajahnya (layaknya orang selesai berdoa) para sahabat mendekati dan bertanya, “Ya Rasulullah, apa yang terjadi sehingga engkau mengangkat kedua belah tanganmu sambil mengatakan : “Amin” sampai tiga kali?” Jawab Rasulullah SAW, “Tadi saya didatangi Jibril dan meminta saya mengaminkan doanya”.

“Apa gerangan doa yang dibacakan Jibril itu ya Rasulullah?” tanya sahabat. Kemudian Rasulullah SAW menjawab, “Kalau kalian ingin tahu inilah doa yang disampaikan Jibril dan saya mengaminkan” :

1. “Ya Allah ya Tuhan kami, janganlah diterima amal ibadah kaum Muslimin selama bulan Ramadhan apabila dia masih bersalah kepada orang tuanya dan belum dimaafkan“. Rasulullah SAW mengatakan : “Amin”.
2. “Ya Allah ya Tuhan kami, janganlah diterima amal ibadah kaum muslimin selama bulan Ramadhan apabila suami isteri masih berselisih dan belum saling memaafkan“. Rasulullah SAW mengatakan : “Amin”.
3. “Ya Allah ya Tuhan kami, janganlah diterima amal Ibadah kaum Muslimin selama bulan Ramadhan apabila dia dengan tetangga dan kerabatnya masih berselisih dan belum saling memaafkan“. Rasulullah SAW mengatakan : “Amin”.

Disamping puasa Ramadhan, salah satu puasa yang utama yang dianjurkan Rosulullah adalah puasa senin kamis.
Suatu ketika seorang sahabat bertanya pada Rasulullah. “Wahai Rasulullah. Kenapa engkau selalu melaksanakan puasa pada hari Senin dan Kamis saja?”. Ada yang tahu apa jawaban Rasulullah?
Seketika Rasulullah menjawab, “Ketahuilah, Saudaraku. Hari Senin adalah hari dimana aku diturunkan ke dunia. Hari dimana aku lahir dari rahim ibuku, pertama kalinya aku menyentuh alam ini. Aku sangat bersyukur atas kelahiranku di dunia, dan aku menunjukkan rasa syukurku dengan melaksanakan puasa pada hari itu,”. “Lalu bagaimana dengan hari Kamis, ya Rasul? Apa istimewanya hari itu?” Tanya sahabat lagi. Dengan tenang Rasulullah menjawab, “Tahukah engkau, Saudaraku? Bahwa pada hari itu (Kamis) semua amal ibadah umat manusia dikumpulkan dihadapan Allah oleh para malaikat. Tidakkah engkau merasa bahagia jika di saat amalmu sedang diperiksa, engkau sedang dalam keadaan beribadah kepadaNya?”.

Senyum
“Senyumanmu di depan wajah saudaramu adalah sedekah.”. (Riwayat At-Tirmidzi)
Ini adalah amalan kebaikan paling murah di dunia, tidak membutuhkan biaya, tidak membutuhkan energi berlimpah, meluncur dari bibir kita kemudian masuk ke kalbu. Meskipun ringan, efektifitasnya dalam mempengaruhi akal pikiran, menghilangkan kesedihan, membersihkan jiwa. Meskipun ringan, amalan ini disejajarkan dengan shadaqoh oleh Allah. Inilah salah satu kesempurnaan Islam. Hal-hal yang kecil diperhatikan dan begitu dihargai.

Senyum adalah salah satu wasilah (sarana) dakwah Rosul yang terbaik. Rasulullah SAW sangat terkenal dengan senyumannya. Setiap bertemu Rosulullah SAW pasti mereka akan merasa sangat nyaman. Banyak kesaksian dan kisah Rasulullah SAW yang diceritakan oleh para sahabat, diantaranya adalah:

  1. Rasulullah SAW menyatakan bahwa senyum adalah ibadah.
  2. Rasulullah SAW selalu tersenyum pada istrinya.
  3. Senyuman merupakan wujud tertawa Rasulullah SAW. Beliau tidak pernah tertawa terbahak-bahak.
  4. Rasulullah SAW menggunakan senyuman ketika menegur seseorang.
  5. Rasulullah SAW tetap tersenyum ketika menerima ancaman.
  6. Rasulullah SAW tersenyum ketika membebaskan tawanan orang kafir.
  7. Walaupun Rasulullah SAW sering tersenyum ketika disakiti, namun jika hukum Allah dilanggar, wajahnya akan memerah karena marah.

Kenapa senyum disejajarkan dengan shadaqoh?? Sepertinya halnya ketika kita bersedekah kepada seseorang dengan nominal uang tertentu. Kita memberikan harta tersebut dengan ikhlas dan bisa mengurangi beban orang lain. Begitu pun senyuman, ketika kita bisa tersenyum dengan tulus and ikhlas, ini bisa mengurangi perasaan orang lain yang sedang murung. Beban mereka pun akhirnya sedikit terobati dengan senyuman kita. Senyun bisa mengobati rasa galau, pusing, penat, bahkan bisa menghilangkan marah.
Ada kisah menarik dari David J. Schwardz. Penulis buku “Berpikir dan Berjiwa besar”.
“Saya sedang berhenti menunggu lampu lalu lintas berganti hijau ketika mobil saya ditabrak dari belakang. Pengemudi dibelakang saya agaknya terlambat menginjak rem dan akibatnya bemper belakang mobil saya miring. Saya melihat ke belakang lewat kaca spion dan melihatnya turun keluar. Saya keluar dan siap bertengkar. Saya akui bahwa saya siap menyerangnya secara verbal.
Namun, untunglah, sebelum saya mendapat kesempatan ini, ia berjalan menghampiri saya sambil tersenyum dan berkata dengan nada yang bersungguh-sungguh, "Saya sungguh tidak sengaja." Senyuman itu dipadu dengan komentar yang tulus, meluluhkan saya. Saya menggumam, "Tidak apa-apa. Ini memang sering terjadi." Dalam waktu yang singkat sekali amarah saya berubah menjadi persahabatan.

Kisah terakhir, Abu Yazid Al Busthami, pelopor sufi, pada suatu hari pernah didatangi seorang lelaki yang wajahnya kusam dan keningnya selalu berkerut. Dengan murung lelaki itu mengadu, “Tuan Guru, sepanjang hidup saya, rasanya tak pernah lepas saya beribadah kepada Allah. Orang lain sudah lelap, saya masih bermunajat. Isteri saya belum bangun, saya sudah mengaji. Saya juga bukan pemalas yang enggan mencari rezeki. Tetapi mengapa saya selalu malang dan kehidupan saya penuh kesulitan ?
Sang Guru menjawab sederhana, Perbaiki penampilanmu dan ubahlah raut mukamu. Kau tahu, Rasulullah SAW adalah penduduk dunia yang miskin namun wajahnya tak pernah keruh dan selalu ceria. Sebab menurut Rasulullah SAW, salah satu tanda penghuni neraka ialah muka masam yang membuat orang curiga kepadanya. Lelaki itu tertunduk. Ia pun berjanji akan memperbaiki penampilannya.
Mulai hari itu, wajahnya sentiasa berseri. Setiap kesedihan diterima dengan sabar, tanpa mengeluh. Alhamdullilah sesudah itu ia tak pernah datang lagi untuk berkeluh kesah.  Keserasian selalu dijaga. Sikapnya ramah,wajahnya sentiasa menguntum senyum bersahabat. Riak mukanya berseri.
Tak heran jika Imam Hasan Al Basri berpendapat, awal keberhasilan suatu pekerjaan adalah muka yang ramah dan penuh senyum. Bahkan Rasulullah SAW menegaskan, senyum adalah sedekah paling murah tetapi besar pahalanya.

SURGA, I'm Coming...


 

Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal shaleh, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai; kekal mereka di dalamnya; mereka di dalamnya mempunyai istri-istri yang suci, dan Kami masukkan mereka ke tempat yang teduh lagi nyaman.(QS An-Nisaa : 57)



Keberadaan surga ditunjukkan dengan dalil dari al-Qur’an dan as-Sunnah. Disebutkan di dalam As Shahihain (Bukhari dan Muslim) dari hadits Anas r.a dalam kisah Isra’ Mi’raj bahwa Nabi SAW melihat Sidratil Muntaha dan melihat di sisinya ada Jannatul Ma’wa. Beliau bersabda, “Kemudian Jibril membawaku pergi hingga berhenti d Sidratil Muntaha, maka Sidratil Muntaha itu diliputi warna-warni yang aku sendiri tidak mengetahui apa itu. Lalu beliau bersabda, “Kemudian aku masuk ke dalam surga dan ternyata di dalamnya bertahtakan mutiara dan debunya terbuat dari misik.” (HR al-Bukhari dan Muslim)

Dan masih banyak lagi ayat-ayat dan hadits yang menunjukkan bahwa surga adalah makhluk Allah SWT yang telah diciptakan, sebagaimana pula dengan neraka. Maka orang yang menyelisihi keyakinan ini adalah termasuk ahli bid’ah, seperti mu’tazilah yang mengatakan bahwa surga belum diciptakan, tetapi baru diciptkan pada hari Kiamat kelak. Pada edisi ini, Da’watuna akan mengajak pembaca untuk mengenal sekilas tentang Surga.

Pintu-Pintu Surga
“Dan orang-orang yang bertaqwa kepada Rabbnya dibawa ke surga berombong-rombongan (pula). Sehingga apabila mereka sampai ke surga itu sedang pintu-pintunya telah terbuka dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya, “Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu, berbahagialah kamu! maka masukilah surga ini, sedang kamu kekal di dalamnya” (QS. Az-Zumar:73)
Di dalam ayat ini Allah SWT menyebutkan bahwa surga memiliki pintu-pintu, sebagaimana juga neraka. Dan pintu-pintu surga apabila nanti telah terbuka, maka akan terus dibiarkan terbuka tidak sebagaimana pintu neraka, ia akan ditutup rapat sebab neraka merupakan penjara.

“Ini adalah kehormatan (bagi mereka). Dan sesungguhnya bagi orang-orang yang bertaqwa benar-benar (disediakan) tempat kembali yang baik, (yaitu) surga ‘Adn yang pintu-pintunya terbuka bagi mereka.” (QS. 38:49-50)

Rahasia di balik terbukanya pintu surga bagi para penghuninya adalah karena mereka dapat mondar-mandir, datang dan pergi ke mana saja sesuka mereka. Dan yang ke dua adalah karena malaikat masuk ke dalam surga setiap waktu dengan penuh sikap lembut dan ramah. Ini menunjukkan bahwa surga merupakan tempat aman dan kedamaian yang tidak butuh untuk dikunci (ditutup) pintunya.

Di dalam sebuah hadits, Nabi SAW bersabda,
“Jika seorang wanita menunaikan shalat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya dan menaati suaminya; niscaya akan dikatakan padanya: “Masuklah ke dalam surga dari pintu manapun yang kau mau”. (HR. Ahmad)

"… Barangsiapa termasuk ahli salat, maka akan dipanggil dari pintu As-Shalah. Barangsiapa termasuk ahli jihad, maka akan dipanggil dari pintu Aj-Jihad. Barangsiapa termasuk ahli puasa, maka akan dipanggil dari pintu Ar-Rayyan. Dan barangsiapa termasuk ahli sedekah, maka akan dipanggil dari pintu Ash-Shadaqah. Abu Bakar lantas berkata, 'Demi engkau dan ibuku (ummul mukminin), ya, Rasulullah! Apakah seseorang harus dipanggil dari pintu-pintu itu, dan adakah seseorang yang dipanggil dari pintu-pintu itu seluruhnya? Rasulullah menjawab, Iya. Dan aku berharap semoga engkau termasuk dari mereka." (HR. al-Bukhari)

Di Manakah Surga Berada?
Allah SWT berfirman, artinya,
“Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal.” (QS. 53:13-15)
Ayat ini menunjukkan bahwa surga itu berada di atas langit, karena Sidratil Muntaha berada di atas langit. Dan juga firman Allah SWT, artinya, “Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rezkimu dan terdapat (pula) apa yang dijanjikan kepadamu.” (QS. 51:22)
Imam Mujahid berkata, “Yang dimaksudkan adalah surga.” Dan Ibnu Abbas r.a juga berkata, ” Surga itu berada di atas langit yang ke tujuh.”

Kunci Surga
Rasulullah SAW bersabda,
“Kunci Surga adalah persaksian tiada ilah yang berhak disembah kecuali Allah SWT.” (HR Ahmad). Dikatakan kepada Wahb bin Munabbih, “Bukankah kunci surga itu adalah kalimat la ilaha illallah? Maka dia menjawab, ” Ya, akan tetapi tiadalah suatu kunci itu kecuali dia mempunyai gigi-gigi. Jika engkau datang dengan kunci yang bergigi, maka surga akan terbuka, jika tidak, maka tidak akan terbuka. Beliau memaksudkan dengan gigi di sini adalah rukun-rukun Islam.” 

Jalan Menuju Surga
Jalan menuju surga telah disepakati oleh para rasul dari awal hingga akhir hanyakah satu. Sedangkan jalan ke neraka amatlah banyak tidak terhitung. Oleh karena itu Allah SWT menyebutkan bahwa jalan yang lurus itu hanyalah satu dan menyebutkan jalan kesesatan adalah banyak. Allah SWT berfirman, artinya,
Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah SWT kepadamu agar kamu bertaqwa.” (QS. Al an’am 153)

Tingkatan Surga
Surga memiliki tingkatan-tingkatan, sebagaimana firman Allah SWT, artinya,”(Kedudukan) mereka itu bertingkat-tingkat di sisi Allah SWT, dan Allah SWT Maha Melihat apa yang mereka kerjakan.” (QS. 3:163) Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Rabbnya dan ampunan serta rejeki (nikmat) yang mulia.” (QS. 8:4) Tingkatan surga tertinggi adalah surga Nabi Muhammad SAW yaitu “Al Wasilah” sebagaimana dalam hadits riwayat imam Muslim dari Amr bin al-Ash r.a bahwa dia mendengar Nabi SAW bersabda, “Apabila kalian mendengar muadzin (sedang adzan) maka ucapkanlah seperti yang dia ucapkan kemudian bershalawatlah kepadaku, karena barangsiapa yang bershalawat kepadaku satu kali maka Allah SWT akan bershalawat untuknya sepuluh kali. Kemudian mintalah untukku Al-Wasilah, Karena ia merupakan kedudukan di surga yang tidak layak kecuali hanya untuk seorang hamba saja dari hamba-hamba Allah SWT, dan aku berharap orang itu adalah aku. Barangsiapa yang meminta untukku al-Wasilah maka dia berhak mendapatkan syafa’atku.” (HR. Muslim).

Nama-nama Surga
1. Darus Salam
Sebagaimana firman Allah SWT, artinya, “Bagi mereka (disediakan) Darussalam (surga) pada sisi Rabbnya dan Dialah Pelindung mereka disebabkan amal-amal sholeh yang selalu mereka kerjakan.” (QS. 6:127) Surga adalah Darussalam (negri keselamatan) dari segala musibah, kecelakaan, dan segala hal yang tidak disukai, dan dia merupakan negri Allah SWT, diambil dari nama Allah SWT “as-Salam”. Allah SWT pun mengucapkan salam atas mereka,
“Di surga itu mereka memperoleh buah-buahan dan memperoleh apa yang mereka minta. (Kepada mereka dikatakan), “Salam”, sebagai ucapan selamat dari Rabb Yang Maha Penyayang.” (QS. 36:57-58)

2. Jannatu ‘adn
Sebagaimana firman Allah SWT : Yaitu surga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang sholeh dari bapak-bapaknya, istri-istrinya, dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu, (sambil mengucapkan), “Salamun ‘alaikum bima shabartum”. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.” (QS. Ar Ra’du:23-24)

3. Jannatul Khuld
Karena penduduknya kekal di dalamnya dan tidak akan berpindah ke alam (tempat) lain. Allah SWT berfirman, artinya, ”Katakanlah, “Apakah (azab) yang demikian itu yang baik, atau surga yang kekal yang dijanjikan kepada orang- orang yang bertaqwa?” Surga itu menjadi balasan dan tempat kembali bagi mereka.” (QS. Al-Furqan:15)

4. Darul Muqamah
Sesuai dengan penegasan Allah SWT. di dalam Al Quran, surat Faathir, ayat 34-35:
"Dan berkatalah mereka : Segala puji bagi Allah SWT yang telah mengapus duka cita dari kami. Sesungguhnya Tuhan kami adalah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri: Yang memberi tempat kami di dalam tempat yang kekal (surga) dan karunia-nya".

5. Jannatul Ma’wa
Banyak sekali didalam Al Quran dijelaskan, antara lain :
Surat As Sajdah ayat 19 :
"Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh. maka bagi mereka mendapat surga-surga tempat kediaman, merupakan pahala pada apa yang telah mereka kerjakan."
Firman-nya lagi didalam surat An Naziat ayat 40-41:
"Dan adapun orang-orang yang takut akan kebesaran Rabbnya dan menahan hawa nafsunya. Maka sesungguhnya Surga Mawa lah tempat tinggal mereka."
  
6. Jannatul Nai’im
Jannatun Na’im merupakan nama surge yang mencakup keseluruhan surge karena menghimpun keseluruhan kenikmatan yang ada di semua surge, seperti makanan, minuman, istana, taman yang indah, aroma wangi, dan sebagainya.
Allah SWT berfirman :
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, bagi mereka jannatun Na’im.” (QS Lukman : 8)

7. Maqamul Amin
Nama ini berarti tempat yang aman. Allah SWT berfirman dalam Surat Ad Dukhaan ayat 51-55:
Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam tempat yang aman, (yaitu) di dalam taman-taman dan mata-air-mata-air, mereka memakai sutera yang halus dan sutera yang tebal, (duduk) berhadap-hadapan, demikianlah. Dan Kami berikan kepada mereka bidadari. Di dalamnya mereka meminta segala macam buah-buahan dengan aman (dari segala kekhawatiran).”
Dalam ayat tersebut Allah SWT memberikan 2 rasa aman sekaligus, yaitu aman lokasi dan makanan. Mereka yang tinggal di situ merasa aman, tentram, tanpa kekhawatiran gangguan dari manapun, serta aman dari terputusnya buah-buahan dan efek buruknya (racun).


Jadi teringat saat memberikan materi mentoring lanjutan buat adik kelas Statistika angkatan 2009, si Feri, Sendi, dkk, sekitar bulan Februari 2011. Materinya: Indahnya Surga bagi mereka yang terpilih. Saya post materinya biar berbagi ke rekan-rekan semua….


 
Sumber :
1.    “Hadil Arwah Ila Biladir Afrah” karya Imam Ibnul Qayyim. Kitab ini diterjemahkan jadi berjudul “Tamasya ke Surga”.
2.    “Kehidupan di Surga Jannatun Na'im” karya Halimuddin S.H